Info, Tips dan Peluang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

Email info@ukmpp.web.id
  • Home
  • /
  • Laris Manis Bisnis Kuliner: Tiap Tahun Kebanjiran Pelanggan

Laris Manis Bisnis Kuliner: Tiap Tahun Kebanjiran Pelanggan

Menurut laporan dari BPS atau Badan Pusat Statistik di tahun 2014, Provinsi Jawa Barat memilki total UKM berjumlah 16.405 dengan bisnis makanan dan minuman yang mendominasi di peringkat pertama dengan jumlah 4.023 UKM, diikuti oleh industri olahan kayu (3.987 UKM), industri anyaman (2.266 UKM), industri keramik (1828 UKM), lalu konveksi dan rajutan (1.779 UKM). Angka ini menjadikan Provinsi Jawa Barat sebagai peringkat kedua jumlah dan jenis usaha kecil/menengah terbanyak di Indonesia.

Data ini juga menunjukan bahwa industri makanan mengalami peningkatan setiap tahunnya sebanyak 10%. Hal ini menjadi sebuah petunjuk bahwa bisnis kuliner adalah sektor bisnis yang memiliki potensi besar untuk digali dan menunggu untuk semakin dikembangkan.

bisnis kuliner semakin gurih

Namun begitu, masih ada banyak hal yang menjadi penghalang pertumbuhan industri ini seperti para pengusaha yang kurang profesional, kurangnya akses teknologi dan pengetahuan tentang pemasaran, serta kebiasaan pasar yang homogen menjadikan sebuah bisnis menjadi cepat jenuh dan mati.

Industri Kuliner Saat Ini

Statistik yang ditunjukan oleh bisnis kuliner lokal di tahun ini sangat baik bahkan tumbuh secara optimis jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah dan beberapa badan statistik juga memperkirakan kondisi bisnis makanan dan minuman akan terus menanjak di tahun-tahun ke depan.

Di tahun 2016, laporan statistik menyatakan bahwa industri kuliner di Indonesia setidaknya tumbuh 8,2% – 8,5%. Para pelaku bisnis ini juga optimis di tahun ini bisnis mereka akan tumbuh setidaknya di angka yang sama seperti tahun lalu. Bahkan mereka lebih optimis dari pemerintah yang memiliki perkiraan pertumbuhan industri ini di angka 7,5% hingga 7,8%.

Beberapa faktor yang dapat memicu pertumbuhan industri kuliner di Indonesia di antaranya adalah harga komoditi yang akan cenderung melonjak. Hal ini akan membuat daya beli masyarakat meningkat. Begitu juga dengan semakin banyaknya ritel modern yang menjamur di daerah-daerah. Menjadikan pemasaran produk makanan jadi jauh lebih mudah mencapai konsumen.

Bisnis Kuliner Semakin Optimis

Selain beberapa hal di atas, ada hal lain seperti teknologi dan gaya hidup orang-orang sekarang ini yang membuat bisnis di industri makanan dan minuman semakin digemari. Beberapa hal tersebut adalah,

  • Food Photography

Tampak jelas bagaimana besarnya dampak dari sosial media pada kehidupan seseorang, bahkan lebih besar lagi, peradaban manusia saat ini. Platform seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan lain-lain menjadi sebuah media ajang mencari gengsi, terutama para anak muda.

Salah satu tren yang terjadi sekarang-sekarang ini adalah food photography atau foodie photography, di mana mereka akan memotret makanan yang mereka pesan untuk kemudian mengunggahnya ke akun sosial media mereka. Tren ini begitu meluas hingga menjadi sebuah ritual penting ketika mereka mengunjungi sebuah restoran.

anak nongkrong kulineran

Di sisi lain, keuntungan datang bagi para penggiat bisnis kuliner. Penjualan mereka meningkat terutama jika tampilan makanan yang mereka tawarkan tampak cantik atau instagramable. Media sosial juga menjadi tempat para bisnis kuliner untuk memasarkan produk mereka pada calon konsumen. Hal ini menjadikan marketing jadi lebih mudah dan terjangkau.

  • Anak Nongkrong

“Hari gini gak nongkrong berarti cupu (tidak gaul)”. Ya, itu filosofi itu yang sekarang menempel di otak para anak muda, bukan hanya di kota besar tapi di daerah-daerah pelosok di Indonesia. Tempat-tempat nongkrong anak muda seperti kafe atau swalayan yang menyajikan tempat duduk layaknya Lawson atau Circle K jadi kebanjiran pengunjung gara-gara gaya hidup anak muda zaman sekarang.

Di mulai dari kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, kini kota-kota kecil di pelosok juga jadi target para pelaku bisnis kuliner untuk membuka cabangnya di sana. Hal ini dimaksudkan untuk merangkul para anak muda di daerah yang belum tersentuh seperti di kota-kota besar.